Selasa, 25 Agustus 2009

Belajar Bodoh

Oleh Masrukul Amri, MBA

Secara garis besar, banyak bangsa, perusahaan-perusahaan, pesantren-pesantren, atau apapun jenis institusinya mengalami siklus kehidupan sebagai berikut :

1. Pemimpinnya masih bodoh, sehingga dikelilingi orang-orang pandai;
2. Pemimoinnya agak bodoh, sehingga dikelilingi oleh orang-orang agak pandai;
3. Pemimpinnya sangat pandai, sehingga dikelilingi oleh orang-orang yang sangat bodoh.

Pertama, pemimpinnya masih bodoh, sehingga dikelilingi orang-orang pandai. Ketika sebuah bangsa, perusahaan-perusahaan, pesantren-pesantren baru berdiri, biasanya pemimpinnya masih serba kekurangan karena belum berpengalaman. Pada posisi seperti itu, biasanya ia dikelilingi orang-orang yang memiliki banyak kelebihan serta pengalaman. Hal ini terjadi, karena para pemimpin bangsa, perusahaan dan pesantren itu, gelasnya masih kosong, sehingga mudah diisi air. Maksudnya, pemimpin tersebut masih memiliki banyak kekurangan, sehingga lebih mudah menerima masukan. Ketikanmasih mudah menerima masukan, biasanya para pemberi masukan menjadi betah dilingkungan itu, karena merasa diri bermanfaat.

Kedua, Pemimpinnya agak pandai sehingga dikelilingi oleh orang-orang agak pandai. Ketika bangsa-bangsa, perusahaan-perusahaan, pesantren-pesantren atau apa pun jenis institusinya mulai tegak berjalan, kekurangan pemimpin biasanya berkurang, sebab ia telah memiliki pengalaman menjadi pemimpin. Ketika berposisi seperti ini, biasanya dikelilingi oleh orang-orang yang sedikit kelebihannya, sebab yang banyak pengalamannya mulai mengundurkan diri atau “diberhentikan” oleh para pemimpin yang merasa sudah tidak terlalu memerlukan masukan. Hal ini terjadi, karena para pemimpin bangsa, perusahaan dan pesantren itu, gelasnya mulai terisi separuh, sehingga mulai agak susah diisi masukan dan nasehat. Ketika muali agak pandai seperti ini, orang-orang yangmemiliki banyak pengalaman mulai tidak bisa mengaktualisasikan potensinya secara optimal, sebab pemimpin agak sulit menerima masukan.

Ketiga, pemimpinnya sangat pandai sehingga dikelilingi oleh orang-orang sangat bodoh. Ketika bangsa-bangsa, perusahaan-perusahaan, pesantren-pesantren atau apa pun jenis institusinya, telah mampu berjalan tegak, maka pemimpinnya telah memiliki banyak kelebihan sebab sudah berpengalaman menjadi pemimpin. Ketika posisinya seperti ini, biasanya ia dikelilingi oleh orang-orang yang tidak punya pengalaman atau banyak pengalaman tapi seperti orang bodoh, sebab yang berpengalaman tidak bisa mengaktualisasikan potensi dirinya, hal ini menyebabkan ia mengundurkan diri atau sengaja dibuat mengundurkan atau dipaksa mundur. Kemudian diikuti oleh orang-orang yang sedikit pengalaman, yang juga mulai merasa tidak bisa mengaktualisasikan potensi dirinya.

Memang masih banyak juga yang sangat berpengalaman dan agak berpengalaman yang tetap bertahan di institusi tersebut. Hanya saja perilakunya seperti orang bodoh, yaitu hanya ingin menyenagkan pemimpin.

Kalau sebuah bangsa, perusahaan, pesantren atau institusi lainnya diisi oleh pemimpin yang merasa sudah berpengalaman sehingga susah menerima nasehat, maka siap-siap saja untuk jatuh. Sebab, ia akan dikelilingi oleh orang-orang bodoh atau orang-orang berpengalaman dan pandai, namun berpura-pura bodoh sebab mencari aman. Dan ini sudah terbukti dengan jatuhnya banyak bangsa, perusahaan, pesantren dan lainnya.

Sebagai penutup, orang bodoh akan kalah dengan orang pandai, orang pandai akan kalah dengan orang cerdik, orang cerdik akan akan kalah dengan orang beruntung. Namun jangan mimpi akan mendapatkan keberuntungan kalau tidak pernah berani merasa bodoh, sehingga mau menerima nasihat agar menjadi pandai, akhirnya akan mendapatkan kecerdikan dan memetik keberuntungan.

Tuntutan masa kini mendorong kita untuk terus belajar, tidak peduli usia kita, jika kita ingin sukses. Belajar bukan lagi bagi mereka yang berumur 5 sampai 20 tahun, bukan juga selalu berada di dalam lembaga pendidikan dan kursus-kursus. Walau kita telah menghabiskan ribuan waktu belajar, kita hanya tahu sedikit tentang belajar efektif. Tidak ada jalan pintas untuk cepat mengerti namun partisipasi aktif dalam proses belajar mengajar dapat membuat belajar menjadi efektif. Memperhatikan pelajaran di kelas, membaca, berhenti menunda-nuda, belajar di tempat yang tenang, tidak bermain-main saat pelajaran, dan aktif bertanya adalah hal-hal yang biasanya kita yakin bisa memberikan hasil terbaik.

0 komentar: